Pertunjukan Agung Kehidupan

1 Comment

Terkadang kita menjalani waktu yang sulit, menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan dan membuat dunia seakan gelap gulita. Kritikan, secara diam-diam, muncul. Mengkritik pihak lain, menyalahkan dan cenderung tendensius.
Dunia tidak akan terasa luas dengan kritikan. Kenikmatan dari Allah akan terasa hambar seiring dengan kritik. Alas, tidakkah sudah terlalu sering kita diberi nikmat oleh-Nya?
Apabila nikmat itu diambil, maka ingatlah bahwa itu hanya secuil dari apa yang Ia berikan.
Kalaupun terasa besar bencana yang diterima, maka perhatikan bahwa kehidupan masih menerimamu sebagai manusia yang berjalan dengan tegak dimuka bumi, belum menjadikanmu tulang-belulang yang teronggok di bawah pasir dan nisan.
Kehidupan adalah suatu hal untuk disyukuri, bukan sekedar obyek kritikan harian.
Beberapa hari ini, saat aku menyusuri jalanan baik desa maupun kota, aku mendapatkan keadaan yang secara pribadi aku menganggapnya perlu kucatat: toko-toko yang hampir-hampir terlihat lengang dari pembeli. Yang aku takutkan adalah apabila pemilik ataupun penjaga toko yang mengeluh mengenai kehidupan mereka, usaha mereka yang sepi dan lainnya. Ya, masa-masa ini adalah masa yang sulit, masa di  mana trauma pasca krisis moneter menghantui. Ekonomi, meskipun diberitakan mengalami kenaikan oleh media massa, kenyataannya harga-harga masih tinggi dan keadaan gemah ripah loh jinawi, murah sandang pangan seger kewarasan yang dulu didengung-dengungkan masih terasa euforia.
Kehidupan adalah sebuah pertunjukan agung atas nikmat-Nya kepada sekalian alam, dan terutama bagi manusia, khalifah Allah di muka bumi. Terlalu naif dan sia-sia apabila kita habiskan dalam kritik. Marilah syukuri segala hal, walau untuk sehela nafas yang selalu menyertai kita hingga waktu yang ditentukan-Nya. Wallahu a’lam

Muraqabah

Leave a comment

Tidak ada yang seindah dari memulai sesuatu dengan nama-Nya. Permulaan yang diawali dengan menyerahkan semuanya kepada Ia, Yang Maha Pengasih dan Maha Pemberi. Permulaan yang membawa kepada kesempurnaan ibadah. Ya, intisari kehidupan kita adalah ibadah.

Merasakan kehadiran Allah adalah sebuah pencapaian yang seharusnya setiap muslim sampai kepadanya. Perasaan itu didapatkan melalui latihan, pembiasaan, pembelajaran dan berbagai wasilah lainnya. Perasaan itu adalah apa yang disebut sebagai muraqabatu Allah, rasa bahwa Allah selalu ada, melihat, memperhatikan dan mencurahkan rahmat-Nya. Alangkah indah perasaan ini bila sampai kepada kita.

Dengan adanya perasaan muraqabah dalam diri, maka kita akan selalu mengarahkan diri kepada hal-hal yang diridhai Allah serta menghindarkan diri dari apa yang tidak diridhai. Semakin lama muraqabah itu dilatih, maka akan terbentuk kebiasaan untuk muraqabah.

Kehadiran Allah tidak dapat dimaknai pantheisme, paham yang menyebutkan bahwa tuhan dan semesta adalah hal yang sama, maka tuhan berwujud dimana-mana. Tentu hal ini bertentangan, karena Allah dan makhluk ciptaan-Nya tidak mungkin disamakan karena dua wujud yang berbeda: yang satu kekal dan yang satu fana, kedua zat ini, Dzat Al-Khaliq dan makhluk tidak bisa dikatakan sama.

Muraqabah akan menimbulkan kehidupan yang optimis dan dinamis, karena adanya perasaan Allah selalu ada, dekat dan menjaga kita, selagi kita mengikuti din yang diridhai oleh-Nya.

What does home mean to you?

Leave a comment

My school is my home.

My family is my home.

My class is my home.

My earth is my home.

My friend is my home.

My wife is my home.

My kids are my home.

My blog is my home.

My phone is my home.

My computer is my home.

Home is everywhere i feel at

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.